Tuesday, February 2, 2016

MAKALAH FILUM ARTHROPODA


MAKALAH
FILUM ARTHROPODA
(Kelas Arachnioda dan Myriapoda)

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Zoologi Invertebrata
Dosen:Aa Juhanda, M.Pd
Description: D:\∆Universitas Muhammadiyah∆\LOGO UMMI.jpg














Oleh:
Indra Lesmana Sidik               (1431011002)
Nurfauziah                                (1431011008)
Teguh Rachmatullah Effendi (143101104)
















Pendidikan Biologi
(Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan)
Universitas Muhammadiyah Sukabumi





DAFTAR ISI
DAFTAR ISI........................................................................................................................ 1
BAB I
PENDAHULUAN ............................................................................................................... 2
BAB II................................................................................................................................... 3
ARHTROPODA.................................................................................................................. 3
I. Kelas Arachnoidea......................................................................................................... 3
1.      Scorpoin (Kalajengking).................................................................................... 4
2.      Laba-laba (Araneus diadematus)...................................................................... 6
3.      Kuman( Sarcoptes scabiei )............................................................................... 9
II.    Kelas Myriapoda.......................................................................................................... 10
a.      Sub Kelas Chilopoda....................................................................................... 12
b.      Sub Kelas Diplopoda....................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................... 18





BAB I
PENDAHULUAN
Arthropoda (arthros = sendi atau ruas dan podos = kaki) adalah hewan yang memiliki kaki bersendi/beruas-ruas. Arthropoda merupakan filum terbesar dari kingdom animalia. Jumlah spesiesnya lebih banyak dari filum-filum lainnya. Arthropoda dapat ditemukan di berbagai habitat, antara lain di air, di darat, di dalam tanah dan ada juga yang hidup sebagai parasit pada hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Arthropoda adalah hewan triploblastik, selomata (tubuh dan kaki beruas-ruas) dan bilateral simetris. Tubuhnya terdiri atas kepala, dada, dan abdomen yang keseluruhannya dibungkus oleh zat kitin dan merupakan kerangka luar (eksoskeleton). Biasanya diantara ruas-ruas terdapat bagian yang tidak berkitin sehingga ruas-ruas tersebut mudah digerakkan. Pada waktu tertentu kulit dan tubuh arthropoda dapat mengalami pergantian kulit (eksdisis.

 Arthropoda memiliki sistim pencernaan yang sempurna (memiliki anus). Mulut dilengkapi dengan rahang. Sistim peredaran darahnya terbuka dan darahnya berwarna biru, karena mengandung disebabkan oleh hemosianin (bukan hemoglobin). Sistem pernapasannya ada yang berupa trakea, insang, paru-paru buku, atau melalui seluruh permukaan tubuhnya. Organ ekskresinya berupa tubulus malphigi yang bermuara pada usus belakang. Reproduksi dilakukan dengan perkawinan, tetapi ada juga beberapa hewan yang melakukan parthenogenesis. Partenogenesis adalah proses perkembangan embrio dari telur yang tidak dibuahi. Jenis kelaminnya terpisah (gonokori). Artinya ada hewan jantan ada hewan betina. Sistem sarafnya adalah sistem saraf tangga tali.

Arthropoda memiliki empat kelas, diantaranya yaitu :
1.      Kelas Myriapoda.
2.      Kelas Crustacea.
3.      Kelas Arachnida.
4.      Kelas Insecta.

Arthropoda dalam dunia hewan merupakan filum yang terbesar di dunia. Empat dari lima bagian spesies hewan adalah arthropoda, dengan jumlah di atas satu juta spesies modern yang ditemukan dan rekor fosil yang mencapai awal Cambrian. Jumlah spesiesnya yaitu sekitar 900.000 spesies dengan beragam variasi. Jumlah ini kira-kira 80% dari spesies hewan yang diketahui sekarang. Arthropoda dapat hidup di air tawar, laut, tanah, dan praktis semua permukaan bumi dipenuhi oleh spesies ini. Arthropoda dianggap berkerabat dekat dengan Annelida, contohnya adalah Peripetus di Afrika Selatan.

Arthropoda mungkin satu-satunya yang dapat hidup di Antartika dan liang-liang batu terjal di pegunungan yang tinggi. Semua anggota filum ini mempunyai tubuh beruas-ruas dan kerangka luar yang tersusun dari kitin. Rongga tubuh utama disebut hemocoel. Hemocoel terdiri dari sejumlah ruangan kecil yang dipompa oleh jantung. Jantung terletak pada sisi dorsal dari tubuhnya.





BAB II
ARTHROPODA
Arthropoda adalah hewan yang memiliki kaki dan tubuh yang beruas – ruas, tubuhnya juga terbadi menjadi 3 bagian yaitu kepala, dada dan perut.
Ciri-ciri arthropoda
1.      Tubuh dan kakinya terbagi 3 bagian.
2.      Memiliki rangka luar yang terbuat dari zat kitin sehingga bagian tubuh arthropoda menjadi kaku dan sangat kuat.
3.      Hidup di tempat air tawar, laut dan darat.
4.      hidup secara bebas namun ada juga yang menjadi parasit pada hewan, manusia maupun tumbuhan.
5.      Termasuk filum yang terbesar anggotanya diantara spesies Avertebrata/invertebrate.
6.      Alat pernafasan ada yang menggunakan insang, paru – paru, trakea.
7.      Terdapat beberapa jenis yang mengalami parthenogenesis.
8.      Menggunakan alat ekskresi nefridium yang berpasangan.
9.      Menggunakan sistem saraf tangga tali

·         Klasifikasi Arthropoda
Arthropoda dibagi menjadi 4 kelas yaitu Crustacea, Myriapoda, Arachnoida, Insecta.
Pada makalah ini akan di bahas mengenai kelas Arachnoida dan Myriapoda.

I. KELAS ARACHNOIDEA
Arachnoidea diambil dari kata yunani, yaitu Arachne = laba – laba. Beberapa jenis yang termasuk Arachnoidea ialah : kalajengking, laba – laba caplak, dan sebagainya. Tubuhnya terdiri dari 2 bagian yaitu : Cephalothorax, dan Perut, terdapat 6 pasang embelan pada cephalothorax, antena tidak ada.
Pasangan embelan yang pertama ialah : Kelisere ( Chelicerae ) yang berfungsi untuk merobek dan melumpuhkan mangsanya. Kelenjar racun terdapat di dalam kelisera, tetapi ada beberapa spesies yang kelenjar racunnya terletak pada cephalothorax.
      Pernapasan selain mempunyai trakea juga mempunyai paru-paru buku terletak di bagian ventral perut sebelah depan.
      Saluran pencernaan makanan terdiri dari :
1.      Mulut yang merupakan lubang kecil
2.      Faring
3.      Esophagus
4.      Lambung isap
5.      Lambung yang sebenarnya, yang mempunyai 5 pasang calcum (saluran / kantung buntu) di dalam cephalothorax. Perut tersebut terletak di bagian cephalothorax.
6.      Intestine merupakan suatu saluran yang hampir lurus didalam perut yang membesar pada satu bagian. Kedalam bagian-bagian usus yang membesar tersebut bermuara suatu saluran dari “hati” yang membawa cairan pencernaan. Di bagian ujung belakang usus terdapa suatu kantung yang di disebut stercoral pocket.

Sistem peredaran darah terdiri dari : jantung, arteri vena dan sejumlah sinus. Jantung terletak pada pericardium, ke bagian depan diteruskan oleh aorta yang bercabang-cabang kedalam kedalam jaringan-jaringan di bagian cephalothorax, kebagian belakang oleh arteri caudal, juga terdapat 3 passang arteri perut. Pernapasan dilakukan oleh trakea dan paru-paru buku.
Ekskresi, alat ekskresi berupa saluran malphigi. System syaraf umumnya mengumpul, yang berasal dari persatuan ganglion-ganglion.
Pada jenis laba-laba dibagian ujung abdomen terdapat 3 pasang embelan yang disebut spinerets. Bagian ini disebut organ pemintal. Organ tersebeut mempunyai pembuluh/saluran yang sangat kecil tempat dari mana suatu cairan dari kelenjar sutra dibagian perut melaluinya. Cairan tersebut akan mengeras di udara dan membentuk benang. Benang itu digunakan untuk membuat sarang, memebentuk cocon dan sebagainya. Beberapa jenis hewan dari kelas Arhnoidea adalah :

1.      Scorpoin (Kalajengking)
Hewan ini biasanya hidup dibawah batu-batu, pada lubang-lubang didalam tanah atau juga di tempat-tempat yang tidak begitu bersih. Pada siang hari bersembunyi dan aktif pada malam hari. Makanannya berupa inseck atau laba-laba. Hewan-hewan besar dilumpuhkan oleh sengat yang terdapat di bagian ekornya.
Klasifikasi :
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Arthropoda
Subphylum      : Chelicerata
Classis             : Arachnida
Subclassis       : Dromopoda
Ordo                : Scorpiones
Family             : Scorpionidae
Genus              : Scorpion
Species            : Scorpion sp.
Nama Lokal    : Kalajengking
·         MAKANAN

Kalajengking termasuk karnivora, dia biasanya memakan serangga kecil, cacing tanah, atau hewan kecil tanah lainnya Serangga-serangga kecil seperti jangkrik, kecoa atau udang. Selain itu kalajengking juga bisa diberi pakan berupa cacing tanah dan hewan-hewan kecil tanah lainnya. Kalajengking juga memiliki sifat kanibal (memakan sesamanya).

·         PERILAKU
Kalajengking tergolong serangga yang aktif di malam hari(nokturnal) dan siang hari (diurnal). Ia juga merupakan hewan predator pemakan serangga, laba-laba, kelabang, dan kalajengking lain yang lebih kecil. Kalajengking yang lebih besar kadang-kadang makan vertebrata seperti kadal, ular dan tikus. Mangsa terdeteksi oleh kalajengking melalui sensor vibrasi organ pektin. Pedipalpi mempunyai susunan rambut sensor halus yang merasakan vibrasi dari udara. Ujung-ujung tungkai mempunyai organ kecil yangdapat mendeteksi vibrasi di tanah. Kebanyakan kalajengking adalah predator penyerang yang mendeteksi mangsa ketika ia datang mendekat.
Permukaan tungkai, pedipalpi, dan tubuh juga ditutupi dengan rambut seta yang sensitif terhadap sentuhan langsung. Meskipun kalajengking dilengkapi dengan venom untuk pertahanan dan mendapat mangsa, kalajengking sendiri jatuh menjadi mangsa bagi mahluk kalin seperti kelabang, tarantula, kadal pemakan serangga, ular, unggas (terutama burung hantu), dan mamalia (termasuk kelelawar, bajing dan tikus pemakan serangga).
Seperti halnya predator lainnya, kalajengking cenderung mencari makan di daerah teritori yang jelas dan terpisah, dan kembali ke tempat yang sama pada setiap malam. Kalajengking bisa masuk ke dalam komplek perumahan dan gedung ketika daerah teritorialnya hancur oleh pembangunan, penebangan hutan atau banir dan sebagainya.
·         Reproduksi
Kebanyakan kalajengking bereproduksi secara seksual. Namun, beberapa spesies, seperti hottentotta Hottentotta, caboverdensis Hottentotta, australasiae Liocheles, columbianus Tityus, metuendus Tityus, serrulatus Tityus, stigmurus Tityus, trivittatus Tityus, dan urugayensis Tityus, memperbanyak diri melalui partenogenesis , sebuah proses di mana telur yang tidak dibuahi berkembang menjadi embrio hidup.
Reproduksi seksual dicapai dengan cara transfer spermatofora dari pejantan ke betina. Kalajengking memiliki ritual seks semalam suntuk dalam pembuahan. Mulai dari kimpoi dengan pejantan, sang betina menemukan dan mengidentifikasi satu sama lain menggunakan campuran feromon dan getaran komunikasi.
 Setelah perkimpoian selesai, pejantan dan betinanya akan terpisah. Pejantan umumnya akan mundur cepat, kemungkinan besar untuk menghindari kanibalisme oleh sang betina, meskipun kanibalisme seksual ini jarang terjadi pada kalajengking
·         RACUN
Semua spesies kalajengking memiliki bisa. Pada umumnya, bisa kalajengking termasuk sebagai neurotoksin (racun saraf). Suatu pengecualian adalah Hemiscorpius lepturus yang memiliki bisa sitotoksik (racun sel). Neurotoksin terdiri dari protein kecil dan juga natrium dan kalium, yang berguna untuk mengganggu transmisi saraf sang korban. Kalajengking menggunakan bisanya untuk membunuh atau melumpuhkan mangsa mereka agar mudah dimakan.
Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap artropoda lainnya dan kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia; sengatan menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit, pembengkakan). Namun beberapa spesies kalajengking, terutama dalam keluarga Buthidae dapat berbahaya bagi manusia. Salah satu yang paling berbahaya adalah Leiurus quinquestriatus, dan anggota dari genera Parabuthus, Tityus, Centruroides, dan terutama Androctonus. Kalajengking yang paling banyak menyebabkan kematian manusia adalah Androctonus australis.
·         MANFAAT
Racun kalajengking ternyata dapat di pakai sebagai pembersih tumor. Para peneliti menggunakan bahan sintetisnya sebagai pembawa yodium yang bersifat radioaktif se-sel tumor otak yang masih tertinggal setelah pembedahan. Sejauh ini teknik ini telah di uji pada 18 pasien , dan percobaan medis masih terus di lakukan, hasilnya sementara menunjukan bahwa proses pengobatan ini dapat di terima tubuh dan efektif.
Peneliti inggris mengungkapkan bahwa racun kalajengking bisa menjadi kunci untuk mencegah kegagalan bypas jantung. Jika seseorang mengalami ganggguan pada jantung, maka perawatan yang di perlukan adalah melakukan operasi bypas. OPerasi ini di lakukan untuk meningkatkan aliran darah ke jantung pada orang yang di ketahui memiliki penyakit jantung koroner berat beresiko terkena serangan jantung.
"...Dan kadang kamu benci sesuatu, padahal dia baik bagimu..." (Q.S. Al-Baqarah [2]: 216).
                                                                          
2.      Laba-laba (Araneus diadematus)
Kira-kira 30.000 spesies dari laba-laba terdapat di alam ini. Pada bagian ujung abdomen terdapat spinneret  yang digunakan untuk membuat jaring-jaring/sarangnya, kalisere kecil, saluran racung pada bagian taring. Beberapa jenis laba-laba yang kita temukan misalnya : laba-laba rumah, laba-laba harimau, laba-laba kecapi, dan sebagainya.
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Arachnida
Ordo                : Araneae
Famili              : Araneidae
Genus              : Araneus
Spesies            : Araneus diadematus


·         DAUR HIDUP
Setelah fertilisasi (pembuahan), labah-labah betina menghasilkan kantung
telur, yang ukuran dan bentuknya berbeda-beda tergantung spesies. Kantung telur
umumnya terdiri atas kumpulan benang sutera yang membungkus telur. Beberapa
spesies meninggalkan kantung ini di dekat habitatnya atau di dalam galian. Telur
menetas di dalam kantung, dan labah labah muda berganti kulit sekali sebulum
muncul.
Labah-labah muda ini disebut spiderling atau nimfa, dan sudah mencari
makanan  sendiri.  Nimfa  ini  adalah  bentuk  miniatur  labah-labah  dewasa,  yang
mempunyai spineret dan kelenjar racun yang sudah berfungsi. Nimfa mengalami
molting 2-12 kali sebagai juvenil, tergantung jenis laba-labah, sebelum mencapai
dewasa   kelamin.   Labah-labah   ini   bisa   memencar   dengan   mengembangkan benang-benang suteranya dan terbawa angin.

·         STRUKTUR JARING LABA-LABA
       Jaring laba-laba terbuat dari benang-benang kerangka penahan-beban dan
benang  spiral  penangkap  berlapiskan  zat  perekat,  serta  benang  pengikat  yang
menyatukan benang kerangka penahan beban, benang-benang spiral penangkap,
dan benang pengikat.
Jaring sutera laba-laba adalah material yang sangat kuat, 20 kali lebih kuat
daripada  baja  dan  dua  kali  lebih  lentur  dari  pada  serat  poliamide.  Dapat
diregangkan hingga 31% tanpa patah, lebih lentur daripada serat aramid, lebih
halus  daripada  rambut  manusia  dan  lebih  ringan  daripada  katun  (Khairulhadi,
2010).
       Ada tiga komponen yang membentuk sarang laba-laba, yaitu benang jenis
kuat dan tegang yang mengarah ke luar (radial threads) yang berpotongan pada
titik pusat sebagai porosnya (hub), benang yang menjadi kerangka bagian luar
sarang (frame threads), dan benang jenis kendur dan lengket berbentuk spiral yang
mampu menjebak mangsa (capture radial).
·         JENIS-JENIS LABA-LABA BERACUN
a.       The Tarantullas
laba-laba ini memiliki racun necrotic yang sangat berbahaya, bahkan di Asia beberapa kematian manusia disebabkan oleh gigitan Tarantula ini












b.      Brazilian Wandering Spider (Phoneutria nigriventer)
Pada tahun 2007, laba-laba ini masuk ke dalam Guinness World Records sebagai laba-laba beracunpaling mematikan di dunia. Banyak ditemukan di Amerika Selatan dan Tengah.
Laba-laba ini menghasilkan racun neurotoxic dalam dosis tinggi, satu gigitan cukup untuk membunuh seorang manusia dewasa. Laba-laba ini lebih berbahaya dibanding dengan rivalnya Australian funnel-Web Spider & Black Widows.
c.       Australian Funnel-Web Spider (Hadronyche modesta)
Banyak ditemukan di bagian tenggara Australia, merupakan laba-laba penghasil racun neurotoxic.
Dimana racun ini dapat mengakibatkan kematian apabila tidak segera mendapatkan pertolongan pertama. Racun laba-laba ini bernama atraxotoxin.




d.      Mouse Spider (Missulena bradleyi)
Racun yang dihasilkan laba-laba ini sangat berbahaya bila tergigit olehnya. Beberapa kasus mengakibatkan kematian.
Racun nectoric yang dihasilkan oleh laba-laba ini hampir menyerupai racun atraxotoxin. Banyak ditemukan di Chili dan Australia.





e.       Black Widow Spider (Latrodectus hasselti)
Siapa yang tidak kenal dengan laba-laba ini. Black Widow adalah laba-laba yang sangat terkenal karena racunnya yang mematikan. Merupakan laba-laba penghasil racun neurotoxic yang sangat berbahaya.
Tersebar hingga ke seluruh penjuru dunia di lima benua. Uniknya racun dari Black widow digunakan sebagai obat penawar dari racun hasil gigitan False Black Widows Spider


f.        Brown Recluse spider (Loxosceles reclusa)
Laba-laba ini tidak menggunakan jaring seperti layaknya laba-laba yang bergelantungan dirumah-rumah, akan tetapi laba-laba ini menghasilkan racun necrotic yang memiliki dampak berbahaya bagi manusia jika tergigit olehnya, laba-laba ini tersebar di dunia, terutama di california. laba-laba ini memiliki ciri khas gambar biola di kepalanya



3.      Kuman
Hewan ini ditemukan dimana-mana, didalam air, tanah, tumbuhan dan hewan termasuk manusia. Hewan ini ukuran tubuhnya kadanag-kadang sangat kecil sehingga sukar dilihat dengan mata telanjang. Banyak species yang merupakan parasite bagi manusia misalnya kuman kudis ( Sarcoptes scabiei ). Segmen tubuh tidak jelas, abdomen bergabung denga cephalothorax.







Kingdom               : Animalia
Phylum                  : Arthropoda
Class                      : Arachnida
Subclass                : Acari
Order                     : Sarcoptiformes
Family                   : Sarcoptidae
Genus                    : Sarcoptes
Species                  : S. scabiei
·         Morfologi
S. scabiei berwarna putih krem dan berbentuk oval yang cembung pada bagian dorsal dan pipih pada bagian ventral . Tungau betina dewasa berukuran 300 - 500 x 230 - 340 μm sedangkan yang jantan berukuran 213 - 285 x 160 - 210 pm. Permukaan tubuhnya bersisik dan dilengkapi dengan kutikula serta banyak dijumpai garis-garis paralel yang berjalan transversal. Stadium larva mempunyai tiga pasang kaki sedangkan dewasa dan nimpa mempunyai empat pasang kaki.
·         Ciri-Ciri Seseorang Terkena Skabies
Adalah kulit penderita penuh bintik-bintik kecil sampai besar, berwarna kemerahan yang disebabkan garukan keras. Bintik-bintik itu akan menjadi bernanah jika terinfeksi :
a.       Pruritus nokturna yaitu gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktifitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
b.      Penyakit ini menyerang secara kelompok, mereka yang tinggal di asrama, barak-barak tentara, pesantren maupun panti asuhan berpeluang lebih besar terkena penyakit ini. Penyakit ini amat mudah menular melalui pemakaian handuk, baju maupun seprai secara bersama-sama. Skabies mudah menyerang daerah yang tingkat kebersihan diri dan lingkungan masyarakatnya rendah.
c.       Adanya torowongan (kunikulus) dibawah kulit yang berbentuk lurus atau berkelok-kelok. Jika terjadi infeksi sekunder oleh bakteri maka akan timbul gambaran pustula (bisul kecil), lokalisasi kulit ini berada pada daerah lipatan kulit yang tipis seperti sela-sela jari tangan, daerah sekitar kemaluan, siku bagian luar, kulit sekitar payudara bokong dan perut bagian bawah.













II.                Kelas Myriapoda
Myriapoda (dalam bahasa yunani, myria = banyak, podos = kaki) merupakan hewan berkaki banyak. Myriapoda adalah gabungan dari kelas Chilopoda dan Diplopoda dengan tubuh beruas-ruas dan setiap ruas mempunyai satu pasang atau dua pasang kaki. Tubuh dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu kepala dan abdomen (perut). Hewan ini banyak dijumpai di daerah tropis dengan habitat di darat terutama tempat yang banyak mengandung sampah, misalnya  kebun dan di bawah batu-batuan. Hewan kaki seribu adalah salah satunya yang terkadang kita lihat di lingkungan sekitar kita.Myriapoda hidup di darat pada tempat lembap, misalnya di bawah daun, batu, atau tumpukan kayu.Bagian tubuh Myriapoda sulit dibedakan antara toraks dan abdomen.Tubuhnya memanjang seperti cacing. Pada kaput terdapat antena, mulut, dan satu pasang mandibula (rahang bawah), dua pasang maksila (rahang atas), dan mata yang berbentuk oseli (mata tunggal).Tubunya bersegmen dengan satu hingga dua pasang anggota badan pada tiap segmennya.Setiap segmen terdapat lubang respirasi yang disebut spirakel yang menuju ke trakea.Ekskresinya dengan tubula malpighi.Myriapoda bersifat dioseus dan melakukan repsroduksi seksual secara internal.

1)      Ciri umum Myriapoda
a.        Struktur dan Fungsi Tubuh
Tubuh terdiri atas kepala (cephalo) dan perut (abdomen) tanpa dada (toraks), dan beruas-ruas, terdiri atas ± 10 hingga 200 segmen. Dibagian kepala terdapat satu pasang antena sebagai alat peraba dan sepasang mata tunggal (ocellus). Penambahan jumlah segmen terjadi pada tiap pergantian kulit.
Alat gerak pada kelompok hewan Chilopoda adalah satu pasang kaki di tiap segmen perut kaki, sedangkan pada Diplopoda terdapat dua pasang kaki pada tiap segmen perut, kecuali segmen terakhirnya. Eksoskeleton terdiri dari kulit keras dari zat kitin yang berfungsi melindungi alat-alat dalam, tempat melekatnya otot dan memberi bentuk tubuh. Zat kitin tidak larut dalam air, alkohol, alkalis, asam maupun getah pencernaan hewan lain. Kulit kitin yang tipis terletak pada perbatasan antara dua segmen, yaitu di bawah kulit kitin yang tebal. Dengan adanya kulit kitin yang tipis inilah maka hewan ini dapat bergerak leluasa. Kulit kitin ini mengalami eksdisis.
b.      Sistem Organ Myriapoda
           Sistem pencernaan
Saluran pencernaannya lengkap dan mempunyai kelenjar ludah. Chilopoda bersifat karnivor dengan gigi beracun pada segmen pertama, sedangkan Diplopoda bersifat herbivor, pemakan sampah dan daun-daunan.
           Sistem respirasi
Organ pernapasan berupa satu pasang trakea berspirakel yang terletak di kanan kiri setiap ruas, kecuali pada Diplopoda terdapat dua pasang di tiap ruasnya.
           Sistem peredaran darah
Sistem peredaran darahnya bersifat terbuka. Organ transportasi berupa jantung yang panjang dan terletak memanjang di bagian punggung tubuh. Pada Chilopoda terdapat sepasang ostium di tiap segmen, sedangkan pada Diplopoda terdapat dua pasang ostium di tiap segmen. Darah tidak berwarna merah karena tidak mengandung hemoglobin (Hb), melainkan hemosianin yang larut dalam plasma. Dari jantung darah dipompa ke dalam arteri ke tiap segmen, dan kembali ke jantung lewat hemosoel (rongga tubuh yang mengambil bagian dalam peredaran darah).
           Sistem ekskresi
Organ ekskresi berupa dua pasang pembuluh Malpighi yang bertugas mengeluarkan cairan yang mengandung unsur Nitrogen (N).
           Sistem syaraf
Sistem syarafnya disebut syaraf tangga tali dengan alat penerima rangsang berupa satu pasang mata tunggal dan satu pasang antena sebagai alat peraba.
           Sistem reproduksi
Reproduksi secara seksual, yaitu dengan pertemuan ovum dan sperma (fertilisasi internal). Myriapoda ada yang vivipar dan ada yang ovipar.
2)      Klasifikasi Myriapoda                                                                          
Dalam penggolongannya Myriapoda merupakan gabungan dari dua subkelas, yakni:
a.         Sub Kelas Chilopoda
Kelompok hewan ini dikenal sebagai kelabang.Tubuhnya memanjang dan agak pipih.Pada kepalanya terdapat antena dan mulut dengan sepasang mandibula dan dua pasang maksila.Pada tiap segmen tubuhnya terdapat kaki dan sepasang spirakel.Pasangan pertama kaki termodifikasi menjadi alt beracun.Alat penyengat digunakan unutk menyengat musuh atau pengganggunya.Sengatannya menimbulkan bengkak dan rasa sakit.Contoh hewan ini adalah kelabang (scutigera sp.). Contoh: kelabang : Lithobius forticatus dan Scolopendra morsitans.


Klasifikasi:
Kingdom                     : Animalia
Sub Kingdom              : Invertebrata
Phylum                        : Arthropoda
Classis                         : Chilopoda
Ordo                            : Centipedes
Familia                        : Scolopendridae
Genus                          : Scolopendra
Species                        : Scolopendra sp
  Ciri-ciri:
           Tubuh agak gepeng, terdiri atas kepala dan badan yang beruas-ruas (15 –173 ruas). Tiap ruas memiliki satu pasang kaki, kecuali ruas (segmen) di belakang kepala dan dua segmen terakhirnya. Pada segmen di belakang kepala terdapat satu pasang “taring bisa” (maksiliped) yang berfungsi untuk membunuh mangsanya. Pada kepala terdapat sepasang antena panjang yang terdiri atas 12 segmen, dua kelompok mata tunggal dan mulut. Hewan ini memangsa hewan kecil berupa insecta, mollusca, cacing dan binatang kecil lainnya, sehingga bersifat karnivora.
           Alat pencernaan makanannya sudah sempurna artinya dari mulut sampai anus. Alat eksresi berupa dua buah saluran malphigi.
           Respirasi (pernafasan) dengan trakea yang bercabang-cabang dengan lubang yang terbuka hampir pada setiap ruas.
           Habitat (tempat hidup) di bawah batu-batuan/timbunan tumbuhan yang telah membusuk. Kelas ini sering disebut Sentipede.
b.        Sub Kelas Diplopoda
Hewan pada ordo ini dikenal dengan kaki seribu, meskipun jumlah kakinya bukan berjumlah seribu.Ada yang menyebutkan nama lain seperti keluwing.Tubuhnya bulat panjang.Mulutnya terdiri dari dua pasang maksila dan bibir bawah.Pada tiap segmen tubuhnya terdapat dua pasang kaki dan dua pasang spirakel.Diplopoda tidak memiliki cakar beracun karenanya hewan ini bersifat hebivora atau pemakan sisa organisme.Gerakkan hewan ini lambat dengan kaki yang bergerak seperti gelombang.Bila terganggu hewan ini akan menggulungkan tubuhnya dan pura-pura mati.



1)      Struktur Tubuh
Kaki seribu memiliki tubuh yang terbagi atas dua bagian, kepala di sebelah depan dan bagian tubuh yang panjang dibelakangnya. Tubuhnya terdiri dari segmen-segmen tubuh berbentuk pipih.
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Arthopoda
Klas                 : Myriopoda
Ordo                : Dilopoda
Family             : Lulusdae
Genus              : Lulus
Spesies            : Julus sp.
Pada hampir setiap segmen tubuh dari kaki seribu dewasa terdapat dua pasang kaki Segmen tubuh pertama setelah kepala disebut tengkuk (collum) dan tidak berkaki Tiga segmen berikutnya (segmen 2 hingga 4) mengandung sepasang kaki pada tiap segmennya Kaki seribu yang belum dewasa sering kali mempunyai segmen terakhir yang tidak berkaki. Kaki seribu yang belum dewasa sulit sekali ditentukan jenisnya. Oleh karena itu pilihlah kaki seribu dewasa, spesimen yang segmen terakhirnya lengkap dengan kaki atau specimen yang hanya mempunyai sedikit segmen tanpa kaki untuk ditentukan identitasnya. Alat mulut kaki seribu hanya memiliki dua pasang alat mulut, mandibula yang digunakan untuk mengunyah dan suatu keping di sebelah belakang yang disebut gnathochilarium.
·         Organ Tomosvary: Ini adalah organ perasa yang terletak di kepala pada kebanyakan kaki seribu.Organ ini umumnya berbentuk cincin yang agak menonjol, tetapi dapat juga berbentuk ladam atau hanya sekedar berbentuk suatu lubang. Posisinya terletak di bagian belakang dasar sungut. Tidak semua bangsa kaki seribu memiliki organ ini.
·         Ozopor: Organ ini pada kebanyakan bangsa kaki seribu terdapat pada sejumlah segmen tubuh, yaitu lubang kelenjar yang menghasilkan bau tertentu. Bagian ini agak sulit untuk dilihat. Pada kebanyakan hewan, ozopore terletak di sebelah samping tubuh dan dimulai pada segmen ke enam. Pada sebagian kecil kelompok hewan ini, lubang kelenjar terdapat di sepanjang bagian tengah dorsal.
·         Paranota: Bagian dorsal setiap segmen cincin ditutupi dengan perisai yang kerat dan disebut tergit.Pelebaran kearah samping tubuh dinamakan paranota. Kebanyakan kaki seribu memiliki “bintik mata” pada daerah sisi kepala. Mata demikian dapat terdiri dari sejumlah bintik mata yang bersatu membentuk daerah penglihatan. Sejumlah kaki seribu, misalnya Polydesmida, tidak pernah memiliki bintik mata. Kaki seribu yang hidup di dalam gua pada beberapa bangsa telah kehilangan alat penglihatan mereka, meskipun kerabatnya yang hidup di permukaan tanah mempunyai daerah penglihatan yang terbentuk dengan baik.
Kaki seribu dewasa umumnya mempunyai alat kelamin yang jelas. Alat kelamin tentu terdapat pada kedua jenis kelamin, hanya lebih nyata pada hewan jantan. Kaki yang berubah menjadi alat kelamin umumnya dapat ditemukan di dua bagian, di daerah segmen cincin yang ke tujuh atau pada bagian ujung tubuhnya, meliputi pasangan kaki yang terakhir.
Pasangan kaki yang terakhir umumnya dinamakan telopod. Pasangan kaki ke tujuh yang termodifikasi kadang-kadang tersembunyi pada suatu kantung. Pada kelompok hewan demikian hewan jantan terlihat tidak punya pasangan kaki pada segmen ke tujuh). Pasangan kaki ke tujuh yang mengalami modifikasi dikenal dengan gonopod. Organ ini sangat penting untuk mengidentifikasi jenis. Hewan betina mempunyai alat kelamin (kadang-kadang disebut cifopod) dapat ditemukan di sebelah belakang pasangan kaki kedua.

a.       Sistem Peredaran Darah
Darah tidak berwarna merah karena tidak mengandung hemoglobin (Hb), melainkan hemosianin yang larut dalam plasma. Dari jantung darah dipompa ke dalam arteri ke tiap segmen, dan kembali ke jantung lewat hemosoel (rongga tubuh yang mengambil bagian dalam peredaran darah).


b.      Reproduksi
Pada kelas diplopoda sudah dapat dibedakan jantan dan betina. Bukaan genital terletak pada segmen ketiga, dan pada jantan disertai oleh satu atau dua penis, yang paket setoran sperma ke gonopods. Pada wanita, membuka pori-pori genital ke kamar kecil, atau vulva, yang ditutupi oleh tudung kecil seperti penutup, dan digunakan untuk menyimpan sperma setelah sanggama. Dalam beberapa spesies jantan memancarkan feromon untuk menarik si betina. Sebelum perkawinan, kaki seribu jantan terlebih dahulu mengisi organ-organ seksual sekunder dari yang utama, untuk melakukan hal ini dia harus menekukkan tubuhnya ke depan sehingga spermatophore dari Gonopores pada segmen tubuh ke-3 dapat ditransfer ke Gonopods (berarti 'seks-kaki') pada 7 segmen tubuh.
Kaki seribu jantan dan betina melakukan pendekatan untuk kawin dengan cara, kaki seribu jantan berjalan di belakang betina dan merangsang dengan irama pulsa dari kakinya. Ketika betina mengangkat segmen depan jantan mengelilingi tubuhnya dan ketika mereka menentang alat kelamin transfer sperma terjadi. Sperma dilewatkan ke perempuan sebagai sebuah paket disebut spermatophore. Gonopods atau organ seksual sekunder yang digunakan dalam transmisi spermatophore ini bervariasi dalam bentuk dengan spesies yang berbeda, ini terkait erat dengan membantu menghentikan bentuk spesies hybridizing.. Betina dapat dan akan kawin beberapa kali dalam jenis Iulid tetapi jenis Polydesmoid betina cenderung untuk kawin hanya sekali dalam semusim.
Betina menghasilkan 10-300 telur dalm satu waktu, telur ditempat pada tempat yang lembab atau sampah organik, walaupun terkadang di tempat yang kering, sarang akan dilapisi dengan kotorannya.
c.       Pertahanan diri
Kaki seribu tidak menggunakan sungut berbisa untuk melindungi diri dari musuh. Mekanisme pertahanan utamanya adalah menggulungkan diri. Tetapi ada juga yang memancarkan zat beracun berupa hydrogen sianida melalui pori-pori di sepanjang sisi tubuh. Zat ini mampu membakar eksoskeleton dari serangga kecil pengganggu seperti semut.


d.      Makanan
Hewan kelas diplopoda bersifat herbifor, memakan dedaunan, maupun kayu-kayu yang membusuk. Hanya yang berukuran saja menggigit manusia tetapi hanya sebagai mekanisme pertahanan. Kebanyakan kaki seribu membusuk makan daun dan mati lain tanaman materi, pelembab makanan dengan cairan dan kemudian menggoreskan dalam dengan rahang.
2.      Ciri-ciri Diplopoda:                                                                         
Tubuh berbentuk silindris dan beruas-ruas (25 – 100 segmen) terdiri atas kepala dan badan. Setiap segmen (ruas) mempunyai dua pasang kaki, dan tidak mempunyai “taring bisa” (maksiliped). Pada ruas ke tujuh, satu atau kedua kaki mengalami modifikasi sebagai organ kopulasi.
·         Pada kepala terdapat sepasang antena yang pendek, dua kelompok mata tunggal.
·         Hidup di tempat yang lembab dan gelap dan banyak mengandung tumbuhan yang telah membusuk.
·         Respirasi dengan trakea yang tidak bercabang.
·         Alat respirasi dua buah saluran Malpighi
3)      Habitat
Myriapoda yang paling melimpah di hutan lembab, di mana mereka memenuhi peran penting dalam mengurai bahan tanaman membusuk, meskipun beberapa tinggal di padang rumput , semi-kering habitat atau bahkan gurun. Mayoritas adalah detritivorous , dengan pengecualian dari kelabang , yang terutama aktif di malam hari predator . Pauropodans dan symphylans kecil, kadang-kadang hewan mikroskopis yang menyerupai lipan dangkal dan hidup di tanah . Kaki seribu berbeda dengan kelompok lain dalam memiliki mereka segmen tubuh menyatu menjadi pasangan-pasangan, memberikan kesan bahwa setiap segmen dikenakan dua pasang kaki , sedangkan tiga lainnya kelompok memiliki satu pasang kaki pada setiap segmen tubuh.
Meskipun umumnya tidak dianggap berbahaya bagi manusia, myriapods banyak menghasilkan berbahaya sekresi (sering mengandung benzoquinones ) yang dapat menyebabkan sementara terik dan perubahan warna kulit.   
4)      Peranan Myriapoda
Myriapoda dapat dikatakan tidak memberi keuntungan bagi manusia, bahkan ada beberapa yang dianggap mengganggu meski tidak membahayakan. Namun Myriapoda ternyata mempunyai andil dalam memecah bahan-bahan organik atau serasah untuk membentuk humus. Serasah ialah lapisan daun dan ranting-ranting di dasar hutan atau kebun. Proses penghancuran serasah tidak langsung ditangani mikroorganisme, karena mikroorganisme justru menguraikan kotoran hewan-hewan






DAFTAR PUSTAKA
http://m-luqmanulhakim.blogspot.co.id/2014/12/laba-laba.html. Di unduh hari minggu 20 Desember 2015 jam 17:48
Brotowidjojo, Mukayat Djarubito. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya
Rusyana, Adun. 2011. Zoologi Invertebrata. Bandung: ALFABETA


Reactions:

0 comments:

Post a Comment